Kamis, 16 September 2010

silase sebagai pakan ternak

Laporan Kuliah Kerja Praktek

TEKNIK PEMBUATAN DAN PEMBERIAN
SILASE SEBAGAI PAKAN TERNAK KAMBING
DI KOPERASI AGRIBISNIS MANDIRI RUKOH
BANDA ACEH



Diajukan sebagai syarat
untuk memenuhi Kuliah Kerja Praktek



Oleh



AFNIDAR
NIM. 0481410009


















JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2008
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang ketersediaan hijauan pakan tergantung pada musim. Di musim hujan produksi hijauan melimpah, sedangkan di musim kemarau produksi hijauan terus menurun. Kekurangan hijauan pakan yang terjadi di beberapa daerah terutama saat musim kemarau, merupakan masalah yang belum teratasi secara tuntas.
Peningkatan produksi hijauan makanan ternak dibatasi oleh kecenderungan makin sempitnya lahan akibat jumlah penduduk yang terus bertambah. Serta perluasan lahan pertanian untuk tanaman pangan dan lahan pakan ternak (Hartutik, 1987).
Untuk mencukupi kebutuhan protein bagi rakyat, dimana jumlah penduduk yang terus meningkat, maka pemerintah secara terus menerus berusaha untuk meningkatkan produksi dan populasi ternak, salah satu ternak yang bisa diandalkan adalah ruminansia kecil yaitu kambing. Peningkatan produktivitas dan kualitas ternak kambing harus disertai dengan upaya penyediaan pakan berkualitas dan tersedia sepanjang tahun (Mulyono, 1999).
Kambing merupakan hewan yang sangat digemari oleh masyarakat untuk diternakkan, karena ukuran tubuhnya yang tidak terlalu besar, perawatannya mudah, cepat berkembang biak, jumlah anak per kelahiran sering lebih dari satu ekor, jarak antarkelahiran pendek, dan pertumbuhan anaknya cepat. Selain itu, kambing memiliki daya adaptasi yang tinggi dengan kondisi agroekonomi suatu tempat. Di lingkungan-lingkungan yang paling buruk pun, kambing masih mampu bertahan hidup (Sarwono, 2007).
Pada umumnya petani-peternak kambing hanya memberikan hijauan pada pakan ternaknya, baik berupa rumput lapangan atau beberapa hijauan pakan lainnya. Perlakuan tersebut akan dapat mencukupi kebutuhan ternak kambing, ketersediaan hijauan pada musim kemarau terus menurun. Kekurangan hijauan tersebut dapat diatasi dengan cara pengawetan hijauan untuk makanan ternak, salah satu jenis makanan awetan yaitu silase ( AAK, 1993).
Proses pembuatan silase sudah umum dikenal diberbagai negara, dimana merupakan suatu teknologi pengawetan dan peningkatan kualitas hijauan (berkadar air tinggi melalui proses fermentasi dan aktifvitas mikroba). Melalui teknologi inilah hijauan yang melimpah di musim hujan dapat terpenuhi kekurangannya pada musim kemarau (Parakkasi, 1999).
Kualitas silase yang baik dapat diketahui dari keadaan fisik silase tersebut, salah satu standar penilaian kualitas silase yang baik dapat diperhatikan dari wanginya seperti buah-buahan, berasa manis dan sedikit asam, memilki warna hijau kekuningan dan apabila disentuh terasa sedikit lembut dan empuk. Apabila silase sudah memiliki cirri-ciri tersebut, maka silase tersebut sudah dapat dikatakan silase yang berkualitas baik dan layak untuk menjadi pakan ternak (Anonymous, 2008).
Tetes tebu (molasses) merupakan salah satu bahan pengawet yang dapat digunakan dalam pembuatan silase, mempunyai sifat palatabilitas tinggi untuk bahan makanan ternak yang kurang disukai atau yang berkualitas rendah. Oleh karena itu molasses rendah akan kandungan protein maka sumber protein didapat dari penambahan urea. Disini urea diharapkan dapat memperbaiki kandungan dari zat-zat makanan, karena dapat meningkatkan jumlah kandungan nitrogen yang nantinya berubah menjadi amonia (Huitema, 1986).
Kenyataan tersebut menjadi pertanda bahwa silase merupakan makanan ternak yang dapat meningkatkan kualitas pakan bagi ternak tersebut. Semula silase merupakan makanan ternak sapi perah dan potong, kini domba, kambing dan babi tidak ketinggalan untuk diberikan silase (Rismunandar, 1986).

1.2. Tujuan KKP
KKP ini bertujuan untuk mengatasi kekurangan sumber pakan ternak pada saat musim kemarau dan untuk menghasilkan silase yang berkualitas baik sebagai pakan ternak kambing.

1.3. Manfaat
KKP ini diharapkan nantinya bermanfaat dalam memecahkan masalah keterbatasan sumber pakan ternak kambing pada musim kemarau dengan penyediaan pakan awetan yang berkualitas baik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gambaran Umum Koperasi Peternakan Agribisnis Mandiri
2.1.1 Sejarah singkat Koperasi Peternakan Agribisnis Mandiri
Koperasi Agribisnis Mandiri dibentuk dari cikal bakal Usaha Bersama Mandiri (UBM) yang di bentuk pada tahun 1998 dengan anggotanya terdiri dari berbagai lapisan masyarakat antara lain alumni peternakan, mahasiswa aktif dan peternak sekitar. Kegiatan-kegiatan dari Usaha Bersama Mandiri (UBM) ini semakin lama semakin berkembang bahkan sudah dapat memberikan solusi bagi peternak-peternak yang memiliki masalah dalam usaha peternakannya. Semakin berkembangnya usaha yang dilkakukan oleh UBM dalam meningkatkan kesejahteraan anggotanya, maka pada tahun 2001 diadakan suatu rapat yang mengghasilkan kesepakatan untuk membentuk sebuah Koperasi Agribisnis Mandiri. Koperasi ini dibentuk dengan badan hukum Nomor 370/BH/KDK.1.9/1X/2001, tepatnya pada tanggal 24 September 2001 yang beralamat di jalan lingkar kampus, Rukoh, Darussalam kota Banda Aceh (Yaman et al., 2001).
Awalnya koperasi ini beranggotakan 30 orang dengan kegiatan usaha pembibitan unggas, perdagangan obat-obatan dan pakan unggas serta konsultan peternakan. Sarana yang dimiliki Kopearsi Agribisnis Mandiri sebelum terjadinya bencana gempa bumi dan tsunami adalah pabrik pakan ternak, perkandangan jenis unggas komersial serta paralatan dan mesin tetas otomatis (Yaman et al., 2001).


2.1.2 Strutur Organisasi dan Wilayah Kerja.
Koperasi Agribisnis Mandiri telah memiliki beberapa bidang tugas. Bidang tugas tersebut untuk mengelola koperasi: 1) bidang organisasi dan manajemen permodalan, 2) bidang usaha, 3) bidang kesejahteraan, 4) bidang penyempurnaan sarana dan prasarana (Yaman et al., 2001).
Wilayah kerja Koperasi Agribisnis Mandiri sebelum gempa bumi dan tsunami meliputi daerah Darussalam, Lingke dan Aceh Besar. Daerah Darussalam merupakan tempat memproduksi bibit (pembibitan) untuk kepentingan komersial. Lingke sebagai tempat poultry shop yang menjual barang-barang keperluan untuk koperasi berupa pakan, obat-obatan, dan keperluan lainnya serta daerah Aceh Besar sebagai tempat pengambilan plasma (Yaman et al.,2001).
Masing-masing bidang memiliki koordinator lapangan, diantaranya; bidang layer komersial 6 orang, bidang pembibitan 2 orang, bidang arab komersial 4 orang dan bidang feed mill 3 orang. Pengelolaan tugas harian di Koperasi Agribisnis Mandiri dilaksanakan oleh 15 orang karyawan (Yaman et al., 2001).
2.1.3 Kesejahteraan anggota koperasi peternakan Agribisni Mandiri
Peternak-peternak yang bergabung dalam Koperasi Agribisnis Mandiri selain memberikan simpanan pokok dan simpanan wajib pada koperasi, mereka juga memberikan simpanan sosial Rp. 3000 per bulan yang digunakan untuk kebutuhan sosial bagi peternak tersebut. Selain mendapatkan bagian dari SHU, peternak-peternak anggota koperasi juga mendapatkan tunjangan lebaran tiap tahunnya yang diberikan dalam bentuk paket. Modal sendiri terdiri dari simpanan pokok dan simpanan wajib, adapun besar simpanan pokok adalah Rp. 15.000.000,- dan simpanan wajib Rp. 6.000.000,- (Yaman et al., 2001).
Tahun 2001 Koperasi Agribisnis Mandiri telah memiliki jaringan pemasaran dalam provinsi NAD yaitu Bireuen, Aceh Barat, Sabang, Aceh Besar, Aceh Utara, dan Aceh Selatan. Produk yang dihasilkan berupa daging dan telur. Konsumennya adalah rumah makan, rumah tangga dan peternak sehingga volume penjualan masih mungkin untuk ditingkatkan (Yaman et al., 2001).

2.2. Deskripsi Kambing
Dtinjau dari sejarah peternakan kambing di dunia, memang perkembangannya tidak sepesat dan selaju perkembangan domba. Meskipun demikian, kambing merupakan salah satu hewan yang paling tua berhasil dijinakkan oleh manusia.
Berbeda halnya dengan ternak domba, kambing sangat mudah menjadi liar. Selain itu kambing sangat cerdik, senang hidup secara bebas dan memiliki sifat serta kemampuan berkelahi, selain kesanggupan menjaga diri lebih besar dibandingkan dengan domba. Karena senang hidup secara bebas, maka kambing cenderung mudah menjadi liar.
Pada umumnya kambing merupakan hewan yang hidup di lereng-lereng pegunungan, bukit-bukit yang curam ataupun tempat-tempat yang curam, selain tempat yang tandus dengan sedikit ditumbuhi rumput atau tanaman (Murtidjo, 1993).
Kambing yang dikenal sekarang menurut ( Murtidjo, 1993) merupakan, hasil domestika manusia yang diturunkan dari 3 jenis kambing liar, yaitu :
1. Capra hiscus, merupakan jenis kambing liar yang berasl dari daerah sekitar perbatasan Pakistan-Turki.
2. Capar falconeri, merupakan jenis kambing liar yang berasal dari daerah sepanjang Kashmir, India.
3. Capra prisca, merupakan jenis kambing liar yang berasal dari daerah sepanjang Balkan..
Murtidjo (1993) mengatakan, ada beberapa kelebihan yang dapat diperoleh dari ternak kambing, antara lain:
- Cepat berkembang biak, sehingga pengembalian modal lebih cepat dibandingkan dengan ternak ruminansia lainnya.
- Daya adaptasi ternak kambing sangat baik terhadap lingkungan panas sehingga dapat mengkonsumsi lebih banyak jenis huijauan pakan da membutuhkan air relatif lebih sedikit dibandingkan dengan ternak lain.
- Kambing memiliki daya seleksi makanan yang lebih efektif dalam kondisi pengembalaan dibandingkan dengan ternak lain.
- Kambing lebih tahan terhadap beberapa penyakit dibandingkan dengan ternak lain.

2.3. Persiapan Kandang
Di habitat aslinya, kambing hidup di alam bebas, aktivitas makan, minum, dan beristirahat dilakukan tanpa kontrol manusia. Dalam usaha peternakan kambing perah, terlebih lagi dalam jumlah besar, kambing memerlukan perhatian yang cukup serius, sehingga perlu ditempatkan di dalam kandang. Menurut (Akhmad dan Zainal, 2002) kandang memiliki fungsi sebagai berikut:
1. Melindungi kambing dari hewan-hewan pemangsa maupun hewan pengganggu.
2. Sebagai tindakan preventif agar kambing tidak merusak tanaman dan fasilitas lain di lokasi peternakan, serta menghindari terkonsumsinya pakan yang berbahaya bagi kehidupan kambing.
3. Tempat berteduh dari panas matahari dan hujan, serta sebagai tempat untuk beristirahat pada siang hari dan tidur pada malam hari.
4. Mempermudah peternak melakukan kontrol atau pengawasan terhadap kesehatan kambing.
5. Tempat makan, minum, dan melakukan aktivitas lain bagi kambing.
6. Kotoran kambing lebih mudah dikumpulkan untuk pengolahan atau pemakaian lebih lanjut.
7. Kambing-kambing tidak mudah hilang atau terpisah dari kawanannya.
8. Membatasi gerak kambing yang banyak menyita energi, seperti aktivitas berlari. Dengan pembatasan gerak ini, diharapkan seluruh energi yang dihasilkan dari pakan yang dikonsumsi diubah menjadi susu.
9. Memberikan kondisi iklim mikro yang sesuai dengan kebutuhan kambing, sehingga mampu mencapai tingkat produksi optimal.
Menurut Davendra dan Burn (1994), ada dua tipe kandang yang umum dipakai didaerah tropis. Tipe kandang yang pertama adalah tipe kandang pada tanah, yang umum digunakan disebagian besar daerah tropis, kecuali timur jauh. Kandang tipe ini sering kali menempel pada bangunan lain. Tinggi bangunannya kurang lebih 2 - 3 meter, bagian belakangnya miring menjadi 1 - 1,5 meter. Tipe kandang lain adalah kandang panggung, yang sangat praktis untuk daerah yang sangat lembab, dengan curah hujan yang tinggi. Sehingga kambing dapat dilindungi dari hujan. Lantai kandangnya ditinggikan kurang lebih 1-1,5 meter diatas permukaan tanah. Hal ini untuk memudahkan dalam membersihkan dan mengumpulkan kotoran serta kencing ternak. Bangunannya sering kali dibuat dari bambu dan beratapakan ilalang. Di bawah kandang sering kali diletakkan bara api, selama musim hujan yang lembab untuk manghangatkan kambing.

2.4. Pakan Ternak Kambing
Pakan adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh kambing untuk tumbuh dan berkembang biak. Hanya pakan sempurna yang mampu mengembangkan pekerjaan sel tubuh. Pakan yang sempurna mengandung kelengkapan protein, karbohidrat, lemak, air, vitamin dan mineral (Soedjono, 1987).
Dari sudut nutrisi makanan bagi ternak kambing merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menunjang kesehatan, pertumbuhan dan reproduksinya. Makanan yang baik akan menjadikan ternak sanggup melaksanakan fungsi proses di dalam tubuh secara normal. Dalam batas minimal, makanan bagi ternak kambing berguna untuk menjaga keseimbangan jaringan tubuh dan membuat energi, sehingga mampu melakukan peran dan metabolisme (Murtidjo, 1993).
Kebanyakan makanan ternak ruminansia kecil (kambing), dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, secara garis besarnya hijauan dan konsentrat. Hijauan ditandai dengan jumlah serat kasar yang relatif banyak pada bahan keringnya, sedangkan konsentrat mengandung serat kasar yang sedikit dan banyak mengandung karbohidrat, protein dan lemak yang relatif banyak, tetapi jumlahnya bervariasi dengan jumlah kadar air yang relatif sedikit (Sarwono, 2007).
Kambing membutuhkan hijauan yang banyak ragamnya, terutama daun-daunan dan rumput-rumputan. Selain itu kambing juga menyukai limbah dapur (kulit pisang, sisa-sisa sayuran dan ampas kelapa segar), limbah pertanian (daun singkong, batang, daun ubi jalar, jerami kacang tanah dan kedelai), limbah industri (dedak padi, dedak jagung, ampas tahu, bungkil kelapa dan bungkil kedelai), (Soedomo et al., 1986).
Konsentrat makanan penguat yang terdiri dari bahan baku kaya karbohidrat dan protein, seperti jagung kuning, bekatul, dedak, gandum dan bungkil-bungkilan. Untuk kambing umumnya disebut makanan yang memiliki kandungan serat kasar kurang dari 18% dan mudah dicerna (Mulyono, 1999).

2.5. Kosentrat
Selain pakan dalam bentuk hijauan, kambing juga memerlukan pakan penguat untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Pakan penguat dapat terdiri dari satu macam bahan saja seperti dedak bekatul padi, jagung, atau ampas tahu . Kosentrat alias pakan penguat tidak boleh diberikan terlalu banyak, sebaiknya pemberian pakan penguat tersebut tidak sekaligus, malainkan diselingi dengan pemberian hijauan, Sebelum diberi kosentrat, terlebih dahulu kambing diberi pakan hijauan (Sarwono, 2007).
Dedak padi merupakan penyusun utama dari kosentrat, karena dedak padi memiliki kandungan protein yang sangat tinggi, begitu juga dengan kandungan vitamin dan mineralnya (Anggorodi, 1984). Protein dedak padi disebut oryzein yang mempunyai nilai gizi yang tinggi yaitu mengandung asan amino esensial yang lengkap (Hartutik, 1987).
Maka penambahan dedak padi akan meningkatkan protein dan mineral bahan pakan akan meningkatkan daya cerna dan sejumlah unsur mineral esensial untuk pertumbuhan mikroorganisme rumen sangat dibutuhkan untuk pencernaan sellulosa dalam jumlah yang lebih banyak (Anggorodi, 1984).

2.6. Fermentasi Bahan Pakan
Menurut (Hidayat dan Darajat, 1983) fermentasi merupakan proses perubahan kimia dalam substrat organik oleh adanya biokatalisator yaitu enzim yang dihasilkan oleh jenis mikroba tertentu. Proses fermentasi dapat merombak selulosa menjadi 2 molekul glukosa yang berhubungan satu dengan yang lainnya pada posisi β 1,4, zat tersebut adalah β-glukosida yang dihidrolisa menjadi glukosa oleh enzim β-glukopsida. Dengan dirombaknya selulosa yang merupakan salah satu komponen serat kasar, maka kandungan serat menurun (Anggorodi, 1984).
Fermentasi merupakan aktifitas mikroorganisme untuk memperoleh energi yang diperlukan untuk metabolisme dan pertumbuhannya melalui pemecahan atau katalis terhadap senyawa-senyawa organik (Rahman, 1989). Disebutkan juga bahwa perantaraan atau dengan melibatkan mikroorganisme. Fermentasi timbul sebagai hasil metabolisme penyebab fermentasi pada substrat organik yang sesuai (Winarno dan Farziah, 1980).
Pada ruminansia protozoa yang bersilia berkembang di dalam rumen di dalam kondisi alami, dan membantu percernaan zat-zat makanan dari rumput-rumput yang kaya akan serat kasar. Protozoa ini bersifat anaerob. Apabila kadar oksigen atau pH isi rumen itu tinggi, maka protozoa ini tidak dapat membentuk cyste untuk mempertahankan diri dari linkungan yang jelek, sehingga dengan cepat akan mati. Protozoa menelan bakteri dan hidup dari bakteri ini, bersamaan dengan itu memperoleh tambahan sumber protein dan pati dari ingesta rumen (Murwani, 1989).
Tujuan perlakuan fermentasi adalah memecah ikatan kompleks lignin selulosa dan meningkatkan kandungan selulosa yang dipecahkan oleh enzim selulosa yang dihasilkan oleh mikroorganisme (Basuki dan Wiryoasamita, 1988). Mikroba yang bersifat fermentatif dapat mengubah karbohidrat dan turunannya terutama menjadi alkohol, asam dan CO2 (Winarno dan Fardiaz, 1980).

2.7. Silase
Silase adalah hijauan makanan ternak yang disimpan dalam keadaan segar dengan kadar air 60-70 %, didalam suatu tempat yang disebut silo, karena hijauan yang baru dipotong kadar airnya sekitar 75-80 %, untuk memperoleh silase yang baik maka tersebut dilayukan terlebih dahulu 2-4 jam atau diangin-anginkan, sedangkan silo adalah tempat penyimpanan makanan (hijauan), baik yang dibuat dalam tanah maupun diatas tanah (AAK, 1993).
Hijauan yang dimasukkan ke dalam silo pada dasarnya sel-sel sebagian besar masih hidup. Pencernaan dalam tubuh sel-sel tersebut masih berjalan (respirasi), dengan memanfaatkan zat-zat oksigen yang berada di dalam rongga-rongga timbunan., proses respirasi ini akan cepat berhenti bila timbunan cukup padat dan sebaliknya, proses respirasi ini dinamakan proses aerob (Rismunandar, 1986).
Bahan makanan ternak berupa hijauan, merupakan bahan makanan utama bagi ternak, baik ruminansia besar maupun kecil. Di indonesia pakan dapat berasal dari jenis rumput-rumputan dan kacang-kacangan leguminosa, serta hijau-hijauan lain (Sastroamidjoyo et al., 1978). Hijauan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansia, jumlah ternak ruminansia yang terus bertambah tentu membutuhkan hijauan yang mencukupi sepanjang tahun. Namun, ketersediaan pakan tersebut mengalami hambatan, bukan saja sumbernya yang terbatas tetapi juga terpengaruh oleh perbedaan musim (Basya, 1981).
Produksi hijauan pakan ternak sering tidak stabil dimana pada musim kering terjadi penurunan produksi hijauan sehingga penyediaan pakan ternak berkurang. Sebaliknya pada musim hujan produksi hijauan pakan terknak meningkat tajam, sehingga persediaannya melimpah. Untuk mengatasi fluktuasi (naik turun) produksi tersebut dilakukan usaha-usaha penerapan, sistem pengaturan, penyimpanan dan pengwetan secara baik. Pembuatan silase merupakan salah satu cara menanggulangi kekurangan persediaan pakan hijauan bagi ternak ruminansia, terutama pada musim kemarau (Asril et al., 2000).

2.8. Molasses Sebagai Bahan Pengawet
Pada pembuatan silase perlu ditambahkan pengawet, agar terbentuk suasana keasaman dengan derajat keasaman (pH) optimal, bahan pengawet yang digunakan adalah molasses atau tetes (Basya, 1981). Molasses adalah produk atau hasil sampingan pembuatan gula pasir dari tebu dan mempunyai sifat menyedapkan bahan makanan lain yang kurang enak dimakan, kadar gula yang terkandung dalam molasses kira-kira 55 % yang merupakan sifat khusus dari bahan makanan ini (Parakkasi, 1985).
Ranjhan (1981) menyatakan, tetes tebu merupakan hasil sampingan dari industri gula yang sangat penting, ia mengandung 50% gula, produksi tetes berada dibawah produksi gula tebu. Komposisi diperkirakan terdiri dari air 20,6 % kadar gula 60,80 % protein kasar 3,2 %, larutan garam 2,2 % da abu 8,2 %. Kombinasi asam bebas 5,0 % tetes tebu dapat dipergunakan dalam pakan ternak 5-10 %.
Di Indonesia tetes tebu sebagai limbah pabrik gula tebu banyak terdapat dan sebagian kecil yang dipergunakan sebagai campuran pakan ternak. Tetes tebu mudah didapat dan harganya relatif murah (Basri, 1987).

2.9. Penggunaan Urea dalam Pakan Ternak
Urea adalah salah satu sumber Non Protein Nitrogen (NPN) yang mengandung 41-45 % N. Disamping itu penggunaan urea dapat meningkatkan nilai gizi makanan dari bahan yang berserat tinggi serta berkemampuan untuk merenggangkan ikatan kristal molekul selulosa sehingga memudahkan mikroba rumen memecahkannya (Basya, 1981).
van Soest (1982), menyatakan pemakaian urea sebagai sumber amonia pada rumput gajah yang berfungsi untuk menghidrolisis ikatan lignoselulosa, dan menghancurkan lignohemiselulosa, melarutkan silika, mengembangkan serat selulosa sehingga memudahkan enzim selulosa bekerja.
Penggunaan Non Protein Nitrogen (NPN) pada makanan sapi potong dalam batas tertentu, seperti penggunaan urea, cukup membantu ternak untuk lebih mudah pembentukan asam asetat. Urea mempunyai kandungan nitrogen (N) kurang lebih 45 %. Karena nitrogen mewakili 16 % dari protein atau bila dijabarkan protein setara dengan 5,25 kali kandungan nitrogen, maka ternak kambing rata-rata diberi 5 gram/ekor/hari akan sebanding dengan 19,63 gram protein kasar (Murtidjo, 1993).
Sebagai pakan tambahan urea sering dipergunakan sebagai ransum ternak sapi, dimana nitrogen dengan bantuan mikroba dalam rumen dapat disintesa menjadi zat protein yang bermanfaat. Namun perlu diingat, bahwa dalam pemberian urea dapat menimbulkan masalah dimana terlalu terbentuk amoniak (NH3) di dalam rumen yang dapat menyebabkan keracunan dan penggunaan makanan tidak efisien (Soegiri et al, 1981). Apabila pembentukan NH3 lebih lambat, maka NH3 didalam rumen tersebut dapat dipergunakan untuk pembentukan protein bakteri secara efisien (Anggorodi, 1980). Amonia yang terbentuk digunakan oleh bakteri rumen untuk pertumbuhan apabila ternak diberikan pakan sumber C atau (energi) yang tinggi (Maynard et al., 1979).

2.10. Konsumsi Ransum
Konsumsi diperhitungkan oleh jumlah makanan yang dimakan oleh ternak, dimana zat makanan yang dikandungnya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan untuk keperluan produksi ternak tersebut (Tillman et al., 1989).
Konsumsi sangat dipengaruhi oleh palatabilitas yaitu penampilan dan bentuk makanan, bau, rasa, tekstur dan temperatur lingkungan (Church dan Pond, 1988). Hal ini sama dengan pendapat Anggorodi (1980) menyatakan bahwa jumlah makanan yang dikonsumsikan berhubungan erat dengan palatabilitas dan laju bahan makanan di dalam alat pencernaan, makin banyak pula ruangan yang tersedia untuk penambahan bahan makanan.
Menurut Colle dan Ronning (1970) tingkat konsumsi sangat dipengaruhi oleh koefisien cerna, kualitas suatu komposisi kimia makanan, fermentasi dalam rumen pergerakan makanan dalam saluran pencernaan serta status fisiologi ternak. Daya cerna diikuti kecepatan aliran makanan yang tinggi dalam saluran pencernaan sehingga dapat meningkatkan konsumsi (Tillman dkk., 1989).

BAB III
METODE KERJA

3.1 Tempat dan Waktu
Kuliah Kerja Praktek ini dilakukan di Koperasi Peternakan Agribisnis Mandiri bertempat di jln. Lingkar Rukoh Darussalam Kota Banda Aceh yang dilaksanakan sejak tanggal 26 Maret hingga 27 April 2008.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam Kuliah Kerja Praktek ini adalah sabit, Parang, timbangan (shalter), karung beras, tali, cangkul, timba air. Bahan yang digunakan dalam Kuliah Kerja Praktek ini adalah: Rumput gajah, molasses/tetes tebu, urea, dedak padi dan air.

3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Persiapan Silase
Silase yang akan diberikan pada ternak dibuat dari rumput gajah yang telah dilayukan (dikering anginkan) selama satu hari, kemudian di cacah-cacah ( ±3-5 cm). Bahan yang digunakan dalam pembuatan silase ini adalah molasses/tetes tebu 3 % dengan campuran urea dedak padi halus. Kemudian dimasukkan dalam plastik dengan diinjak-injak dan kemudian disimpan selama 10 hari.

3.3.2 Sanitasi Kandang
Sanitasi kandang meliputi pmbersihan kandang, tempat pakan dan tempat minum. Pembersihan kandang dilakukan tiga kali sehari yaitu setiap pagi pukul 08.00 WIB, siang pukul 14.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB dengan menyiram semua kandang dengan air dan dibersihkan dengan sapu.
3.3.3 Formulasi Pakan
Formulasi pakan berdasarkan kebutuhan hidup pokok ruminansia kecil yaitu 3 % bahan kering dari berat hidup ternak tersebut. Konsentrat yang diberikan merupakan campuran dari beberapa bahan yang diberikan dalam bentuk kering. Kosentrat tersebut terdiri dari dedak halus, 524 Hay provite, garam dapur dan ultra mineral. Sedangkan hijauan terdiri dari rumput lapangan, rumput gajah dan silase. Hijauan segar ini dicacah terlebih dahulu sebelum diberikan kepada ternak.
3.3.4 Pemberian pakan
Pemberian kosentrat dilakukan tiga hari sekali yaitu pada pagi hari yaitu pukul 08.00 WIB, siang pukul 14.00 WIB dan sore pukul 17.00 WIB. Pemberian pakan dilakukan dengan mencampurkan kosentrat dengan hijauan.
3.3.5 Penimbangan Kambing
Penimbangan kambing dilakukan pada tanggal 02 April 2008 dan 27 April 2008. Penimbangan dengan menggunakan timbangan shalter dan kemudian diamati pertambahan berat badannya.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persiapan Silase
Produksi hijauan di kebun baik itu rumput gajah atau rumput raja bila melebihi atau melewati umur potong akan mengurangi kualitas hijauan tersebut, untuk mengoptimalkan produksi dan menjaga kualitas, pemotongan dilakukan harus tepat waktu. Umur potong rumput harus optimal pada 7 minggu atau 50 hari. Namun rumput yang akan dibuat silase ini telah berumur 12 minggu atau sekitar 89 hari. Dengan luas lahan per bedeng yaitu 55 m2, dan panjang rata-rata rumput yaitu 2,5 m, Jumlah keseluruhan rumput per bedeng yaitu sebanyak 343 kg. Bila produksi rumput berlebih dan akan dibuat silase untuk perlu pengurangan kadar air rumput dengan cara disimpan berdiri jangan ditidurkan atau ditumpuk untuk menghindarkan dari kerusakan selama 2-3 hari, dan harus disimpan terlindung atau dibawah atap (Anonymous, 2008).
Setelah disimpan selama 2 – 3 hari dan kandungan air berkurang rumput tersebut dicacah dengan panjang cacahan 3-5 cm. Jumlah rumput setelah di cacah dan akan di buat silase yaitu sebannyak 116 kg.
Untuk pembuatan silase diperlukan dedak murni sebanyak 10% dari jumlah rumput yang akan di buat silase untuk bahan starter dalam pembuatan silase rumput raja dan rumput gajah, kualitas dedak ini dapat menentukan baik tidaknya kualitas silase yang akan dihasilkan. Dicampurkan dedak, molasses sebanyak 3 % dan sedikit urea, fungsi urea dalam pembuatan silase yaitu untuk mengikat nitrogen dalam proses pembuatan silase tersebut lalu cacahan rumput tersebut diaduk secara merata.
Hasil percampuran dimasukkan dalam silo yang telah dilapisi dengan plastik. Dipadatkan bahan silase dengan cara ditekan atau diinjak-injak, hal ini dilakukan supaya tidak ada ruang diantara potongan rumput yang berarti tidak ada tempat bagi oksigen. Pencampuran rumput dan dedak harus benar-benar merata agar kualitas silase yang dihasilkan baik (Rismunandar, 1986).
Setelah dipadatkan dan ditekan dengan baik, ikat plastik dengan kuat agar tidak ada udara yang masuk, karena proses fermentasi silase harus dalam keadaan an-aerob (tidak ada oksigen). Beri beban diatasnya agar terdapat tekanan ke bawah sehingga kondisi an-aerob terjadi dengan baik.
Setelah 9 hari silase tersebut dibuka, ternyata menghasilkan silase yang sangat bagus. Ciri-ciri silase yang layak untuk dijadikan pakan ternak yaitu memiliki wangi seperti buah-buahan dan sedikit asam, bewarna hijau agak kekuningan dan bebas dari cendawan lainnya atau jamur. Diberikan kepada Kambing atau ternak ruminasia lainnya, jika tidak suka coba dicampur dahulu dengan rumput yang biasa dikonsumsi atau dapat ditambah sedikit molasses, agar terasa wangi dan rasa yang manis sehingga disukai ternak (palatable), setelah kambing menyukai dapat diberikan sesuai dengan kebutuhan.
Kualitas silase dapat dilihat dengan dua cara, yaitu : (1) Kualitas fermentasi dengan kehilangan nutrisi pakan yang sedikit dan aman untuk dijadikan pakan ternak, dan , (2) Nilai pakan.
Untuk mendapatkan silase dengan kualitas hasil fermentasi yang tinggi maka penting mengetahui dasar pembuatan fermentasi silase dengan baik. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kualitas fermentasi silase dan setiap faktor saling berhubungan satu sama lain. Faktor utama yaitu : (1) Udara dalam silo, (2) Kandungan gula dalam bahan, (3) Kandungan air pada bahan, (4) Panjang pemotongan bahan, dan (5) suhu penyimpanan.(Anonymous, 2008).

4.2 Kandang
4.2.1 Kandang
Kandang mempunyai peranan penting dalam pemeliharaan kambing. Menurut Davendra dan Burn (1994), ada dua tipe kandang yang digunakan oleh masyarakat Indonesia, yaitu tipe kandang panggung dan tipe kandang lantai diatas tanah. Kandang yang digunakan di peternakan ini adalah tipe kandang panggung (kandang individu) yang terbuat dari besi dan mempunyai alas yang terbuat dari kayu dengan lebarnya 1,5 cm. Celah-celah pada lantai ini dapat memudahkan jatuhnya feses dan urine ke bawah sehingga alas kandang tidak kotor.
Kandang yang digunakan pada peternakan ini mempunyai ukuran 50 x 120 cm dan tingginya 80 cm. Sedangkan tinggi kandang dengan lantai adalah 70 cm. Hal ini bertujuan untuk memudahkan dalam membersihkan kandang. Kandang juga dilengkapi dengan tempat pakan, timba dengan ukuran 3 liter sebagai tempat minum, pintu kandang yang terbuat dari kayu serta tangga untuk memudahkan kambing naik turun tangga.
4.2.2 Sanitasi Kandang
Pembersihan kandang ternak dilakukan setipa harinya yaitu mulai dari jam 08.00 WIB, jam 14.00 WIB dan jam 17.00 WIB dengan menyirami semua lantai kandang dengan air. Semua kotoran yang jatuh di lantai disiram dan disapu dalam selokan yang berada dekat kandang hingga terbuang keluar dari kandang. Hal ini dilakukan untuk menjaga kebersihan kandang dan mencegah ternak dari berbagai macam pemyakit.
Kandang juga agar tetap bersih agar bebas dari jamur, bakteri-bakteri dan parasit-parasit yang dapat mengganggu ternak itu sendiri. Tempat pakan ternak juga harus dijaga kebersihannya, semua makanan yang sisa harus dibuang sebelum ditambahkan dengan pakan yang baru. Biasanya ternak tidak suka memakan makanan sisa walaupun sudah ditambahkan dengan pakan yang baru. Selain tempat pakan, tempat minum juga perlu diperhatikan kebersihannya. Biasanya tempat minum dibersihkan dua kali sehari. Sebelum ditambahkan dengan air minum yang baru tempat minum juga dilap dengan menggunakan kain basah yang bersih. Agar air minum ternak tetap dalam keadaan bersih. Hal ini sangat penting untuk proses metabolisme pada tubuh ternak.

4.3 Formulasi Pakan
Pakan merupakan faktor penting bagi pertumbuhan ternak, setiap pakan yang diberikan harus memenuhi kandungan gizi yang cukup. Ternak mengkonsumsi pakan dipengaruhi oleh palatabilitas pakan, kecernaan, perubahan bentuk fisik dan karakteristik serta komposisi kandungan bahan kimia, serta ukuran partikel pakan dalam lambung akan mempengaruhi buffering capacity sehingga mempengaruhi fermentasi dalam lambung, pengaruhb kerja enzim pencernaan dan metabolisme oleh mikroba rumen (van Soest, 1982). Komposisi kimia suatu ransum sangat bervariasi sesuai dengan pakan yang digunakan untuk menyusun ransum akan berbeda pula tingkat konsumsinya.
Konsumsi pakan perlu diamati karena pada bahan keringnya mengandung kabohidrat, lipida, protein, vitamin dan mineral. Bahan-bahan tersebut sangat diperlukan oleh ternak untuk pertumbuhan, produksi dan reproduksi (Tillman et al., 1989).

4.4 Pemberian Pakan
Pemberian pakan ternak harus berdasarkan pada cara penyiapan paka, formulasin pakan dan pemberian pakan. Pakan yang diberikan pada ternak harus teratur yang diuberikan setiap 3 kali sehari.
Pakan yang diberikan pada ternak diletakkan pada tempat pakan sehingga ternak lebih mudah mengkonsumsi pakan tersebut. Ternak kambing merupakan hewan ruminansia kecil yang banyak mengkonsumsi rumput dan daun-daunan segar, sehingga ternak ini hanya membutuhkan sedikit minum. Karena kebutuhan kambing akan air sudah terpenuhi oleh kandungan air yang berasal dari rumput dan daun-daunan yang dikonsumsi.
Teknis pemberian pakan yaitu dengan memberikan kosentrat terlebih dahulu, kosentrat diberikan sebabyak tiga kali sehari. Jumlah kosentrat yang diberikan berdasarkan kebutuhan ternak. Pemberian kosentrat bertujuan untuk meningkatkan produksi massa mikroba dalm rumen. Selain itu juga meningkatkan enzim selulosa yang dapat mencerna pakan yang dikonsumsi oleh kambing.
Silase dan pakan hijauan diberikan berdasarkan pemberian kosentrat, hijuan tersebut diberikan diiringan dengan pemberian kosentrat, karena pemberian kosentrat dengan hijauan selalu dalam waktu yang bersamaan. Jumlah pakan hijauan diberikan pada ternak berdasarkan kebutuhan ternak, karena pemberian pakan yang berlebihan akan terbuang percuma.

4.5 Penimbangan Ternak
Penimbangan ternak yang diulakukan harus pada waktu dan kondisi yang sama pada setiap periodenya. Penimbangan ternakdilakukan dengan menggunakan shalter yang digantung, dan ternak dimasukkan dalam karung yang berukuran 50 kg, dan karung tersebut digantungkan pada shalter. Penimbangan dilakukan sebelum pemberian pakan/ dalam keadaan lambung kosong. Hal ini dilakukan agar data berat ternak antar periode berasal dari kondisi ternak yang sama.
Pertambahan berat badan setiap ternak berbeda-beda, hal ini berdasarkan jumlah pakan yang dikonsumsi. Ternak yang mengkonsumsi pakan yang lebih banyak, pertumbuhannya (pertambahan berat badan) lebih tinggi dengan ternak yang mengkonsumsi pakan sedikit (Tillman el al., 1989). Dalam ransum terdapat berat badan teernak akan meningkat, selain dari jumlah protein yang dikonsumsi, palatabilitas ransum dapat juga mempengaruhi pertambahan berat badan (NRC, 1975).
Kandungan karbohidart, energi dan mineral yang cukup dalam ransum dapat memacu pertumbuhan mikroba dalam rumen yang mengakibatkan ternak lebih mampu mencerna serat kasar, dimana hijauan berserat kasar rendah lebih mudah dicerna, secara fisiologi ternak akan menambah konsumsi ransumnya, maka pemberian ransum mengandung karbohidrat, energi, mineral yang cukup kemungkinan bagi ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan produksi lebih tersedia (Musofie et al.,1989).
Selama dalam masa pemeliharaan, penambahan berat badan kambing tidak memperlihatkan perubahan yang berarti, hal ini juga diakibatkan oleh kondisi lingkungan yang tidak stabil, sehingga ketika terjadi penurunan suhu ternak banyak menggunakan energinya untuk menghangatkan tubuhnya, sehingga konsumsi pakan yang dibituhkan ternak hanya sedikit dan akan mengakibatkan penurunan bobot badan. Selain itu juga ada kambing yang mengalami stress akibat proses adaptasi individu ternak yang kurang baik dengan kondisi kandang baru, sehingga membuat konsumsi pakannya terganggu dan menyebabkan penurunan berat badan pada ternak tersebut. Hal ini dapat kita lihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Hasil penimbangan berat badan kambing pada tanggal 02 dan 27 April 2008

Ternak BBawal (KgBH)/
02-04-2008 BBakhir (KgBh)/
27-04-2008 PBB (KgBH)
Kambing 1 19 23,5 4,5
Kambing 2 20 22,3 2,3
Kambing 3 25 25 0
Kambing 4 20 20,5 0,5
Kambing 5 18 22 3
Kambing 6 26 28 2
Kambing 7 20 20,5 0,5
Kambing 8 18 20 2
Kambing 9 20 24 4
Kambing 10 20 23,5 3,5
Keterangan :
BB : Berat Badan
PBB : Pertambahan Berat Badan


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari Kuliah Kerja Praktek ini yaitu sebagai berikut :
1. Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang diproduksi atau dibuat dari tanaman yang dicacah, pakan hijauan, limbah dari industri pertanian dan lain-lain dengan kandungan air pada tingkat tertentu yang diisikan dalam sebuah silo.
2. Pakan yang diberikan kepada ternak kambing yaitu berupa pakan kosentrat pakan hijauan (baik berupa rumput segar maupun daun-daunan), dan silase.
3. Pertambahan berat badan pada ternak kambing dapat berbeda-beda, hal ini besdasarkan jumlah banyak sedikitnya pakan yang dikonsumsi ternak.

5.2 Saran
Dari hasil Kuliah Kerja Praktek yang telah dilakukan disarankan kepada para peternak, harus mengetahui cara pembuatan silase yang benar dan dapat mendapatkan kualitas silase yang baik, sehingga pada musim kemarau yang berkepanjangan kebutuhan akan hijauan dapat terpenuhi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar